Saturday, January 31, 2009

Buah Roh: Kesetiaan

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan,

kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri” (Gal. 5:22-23a)


Sebuah Kesetiaan

Ibarat matahari yang memiliki beberapa elemen, seperti panas, cahaya, sinar, dan power, demikian pula dengan konteks buah Roh di atas. Bentuk kata yang dipakai adalah tunggal (buah Roh), dan bukan jamak (buah-buah Roh). Namun demikian, bentuk tunggal ini memiliki 9 elemen yang esensial. Menurut King James Version Bible Commentary kesembilan elemen ini dibagi menjadi 3 bagian:

1. Pertama: kasih, sukacita, damai sejahtera (Yun. Agape, Chara, Eirene), adalah relasi kepada Allah.

2. Ketiga: kesabaran, kemurahan, kebaikan (Yun. Makrothymia, Chrestotes, Agathosyne), adalah relasi kepada sesama.

3. Ketiga: kesetiaan, kelemah-lembutan, peguasaan diri (Yun. Pistis, Prautes, Enkrateia), adalah relasi yang berkaitan dengan inner life (kehidupan di dalam diri seseorang itu sendiri).

Mengapa Paulus memakai istilah “buah” dan bukan istilah lain seperti “sifat”, “karakter”, atau “kepribadian”. Secara sederhana ia ingin melukiskan gambaran yang sederhana. Sama seperti buah yang dihasilkan secara alamiah oleh sebuah pohon, demikian juga seharusnya hidup orang percaya menghasilkan buah pertobatannya dari Pohon Kehidupan itu. Satu dari buah roh yang menjadi perhatian hari ini adalah pistis, kesetiaan. Sebuah harian Metropolis menceritakan sebuah contoh pistis yang nyata:

“Krisis di Makati telah usai”, demikian pidato Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo yang disiarkan langsung dari istana Malacanang melalui stasiun televisi ke segenap penjuru negeri itu pada 27 Juli 2003. Ada apa di Makati? Ternyata, di distrik bisnis itu, hampir 300 perwira muda di tubuh militer Filipina sejak hari sebelumnya unjuk gigi melawan pemerintah dengan menguasai apartemen dan pusat perbelanjaan di sana. Mereka melakukan itu karena kecewa atas sikap dan tindakan pemerintah kepada mereka. Hal ini juga merupakan wujud tindakkan pembangkangan dan ketidaksetiaan mereka kepada pimpinan tertinggi militer mereka. Drama pasukan militer yang hampir mengkudeta pemerintahan Presiden Arroyo itu akhirnya gagal tanpa adanya pertumpahan darah. Padahal, seluruh pasukan yang loyal (setia) kepada pemerintah sudah bersiap-siap untuk menghadapi kelompok pembangkang ini. Akhirnya, para prajurit tersebut kembali ke pangkuan pemerintah dan menyatakan kembali ikrar kesetiaan mereka pada pemerintah, negara dan bangsa.

Wujud dan tindakkan pembangkangan para prajurit di atas merupakan gambaran betapa mudah rapuhnya sebuah kesetiaan. Meski telah dilatih, dibentuk, dan menerima disiplin yang tinggi dalam kemiliteran dan menyatakan sumpah setia, tidak selalu menghasilkan sikap loyal yang tinggi kepada para pemimpinnya. Dalam Kitab Ulangan 13-14 dikisahkan hal yang serupa. Saat itu Musa mengutus 12 orang terpilih untuk mengintai dan mengamat-amati negeri yang akan mereka masuki. Ketika 12 orang pengintai itu kembali, mereka menceritakan semua apa yang mereka saksikan di sana, kemudian menceritakannya. Sebagian dari mereka menceritakan kabar busuk dan menciutkan hati seluruh bangsa itu sehingga mereka memberontak, berteriak, minta kembali ke Mesir, dan menolak kepemimpinan Musa. Seolah-olah mereka tidak mempercayai Musa yang dengan setia telah mendampingi dan memimpin mereka. Bahkan, dalam banyak hal, bangsa ini kerap kali memberontak kepada Allah. Bangsa ini adalah bangsa yang rapuh, rapuh akan kesetiaan. Tidak terhitung jumlahnya bagimana bangsa ini meninggalkan Allah dan menyembah allah-allah asing. Allah yang setia telah dihianati dengan ketidaksetiaan.

Kesetiaan yang bagaimana yang bisa kita implikasikan dalam kehidupan riil kita?

1. Faithfulness in Faith of Jesus Christ (Kesetiaan dalam iman kepada Yesus Kristus).

Banyak dari kita mungkin pernah mendengar dan melihat orang-orang yang mulanya aktif dan setia melayani di gereja, tiba-tiba saja, setelah mereka tidak menjabat atau menemukan pasangan hidup yang tidak seiman, lari meninggalkan gereja dan pergi entah ke mana. Ada pula di antara mereka yang karena kecewa dengan gereja, sesama rekan kerja, atau mendapatkan tekanan hidup yang berat dan merasa Tuhan tidak menjawabnya, lalu lari meninggalkan Tuhan. Ini mirip dengan kehidupan jemaat di Efesus. Dibandingkan dengan jemaat di Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia, Laodikia, di Efesus berkumpul banyak orang tekun, sabar, pekerja keras, dan giat melayani. Tetapi ironisnya, jemaat inilah yang paling memprihatinkan. “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan” (Why. 2:4-5). Seorang rekan dari Malaysia, yang sempat menjadi room mate (rekan kamar) saya di seminari, menceritakan akan pengalaman imannya pada saya. Ketika studi di seminari itu ia tidak mempunyai sponsor untuk mendukung biaya studinya. Lalu ia menulis banyak surat dan mengirimkannya kepada orang-orang yang bisa mendukungnya. “Bagaimana seandainya semua surat yang kamu kirimkan tidak ada satu pun yang membalasnya?”, tanya saya kepadanya. “Kalau tidak ada yang membalas satupun”, katanya mantap, “saya akan tetap yakin bahwa Tuhan pasti menolong saya”. Kita mungkin bisa bertahan kalau masih diperhadapkan dengan contoh seperti itu. Bagaimana bila ujian iman kita sudah mencakup masalah ancaman, penganiayaan secara fisik, penjara, atau kematian. Di salah satu kota di Sumatera, ada seorang hamba Tuhan dan juga sebagai kepala sekolah harus menjalani hukuman fisik dan penjara oleh karena fitnah, hasutan, dan tuduhan-tuduhan dusta sekelompok orang yang membencinya. Ia dianggap telah mengkristenisasi salah satu warga di sana. Pada 1999 lalu ia dimasukan ke dalam penjara dan baru bulan Juni 2003 lalu ia dibebaskan. Syukur pada Tuhan, saat ini ia tetap setia kepada-Nya dan melayani Dia. Suatu kali, di sebuah pemukiman di Albania terjadi penyerbuan oleh tentara pemberontak kepada warga setempat. Warga yang saat itu sedang beribadah di dalam gereja ditawan dan disiksa. Seluruh ruangan gereja dirusak dan diporak-porandakan. Ketika melihat gambar Yesus yang tergantung di atas dinding, warga gereja diminta menurunkan dan meludahi gambar itu. Bila menolak, mereka akan ditembak mati. Dengan takut dan gentar, satu persatu mereka maju dan meludahi gambar itu. Tiba-tiba seorang anak kecil berlari, merebut dan memeluk gambar itu. Ia berkata kepada tentara komunis itu, “Jangan kalian sakiti dan hina Juruselamatku. Dia adalah Pemimpinku yang tidak pernah mengecewakanku, dan aku tidak akan menghianatinya”. Seketika komandan pasukan itu menarik anak kecil itu dan mengumpulkan mereka semua di halaman depan gereja. Lalu ia menembaki semua orang-orang yang telah meludahi gambar itu, tetapi membiarkan anak kecil itu hidup dalam imannya. “Mereka semua pantas mati karena telah menghianati pemimpin mereka”, kata komandan tersebut.


2. Faithfulness with Partner and Family (Kesetiaan dengan Pasangan dan Keluarga)

“Saya, James, dengan ini menerima Phobe, sebagai istri saya. Baik dalam keadaan senang-susah, sehat-sakit, miskin-kaya, akan selalu setia kepadanya, sampai maut memisahkan kita”. Demikian isi janji yang umum diucapkan dalam sebuah prosesi pernikahan. Sampai berapa lama janji setia ini bisa dipertahankan? Saya tidak tahu. Yang jelas, ujian mempertahankan janji ini semakin lama semakin mudah dilupakan. Hampir setiap saat kita menyaksikan berita runtuhnya janji setia ini dalam wujud perceraian. Di Amerika Serikat, yang notabene penduduknya Kristen, ternyata memegang rekor nagka perceraian paling tinggi. Gary Smalley, dalam bukunya Seandainya Ia Tahu (1991:79) mengatakan bahwa di AS dari setiap dua pernikah ada satu perceraian. Ini dapat dilihat dari data yang ditulis Norman Wright dalam bukunya The Premarital Counseling:

Di California, angka perceraian bervariasi secara radikal di satu kota ke kota lain. Di Los Angelos pada tahun 1989 terdapat 41.326 pernikahan resmi dan 32.011 pernikahan terselubung, yang berarti total 73.392 pernikahan. Pada tahun itu juga terdapat 42.088 perceraian. Dan di Orange County terdapat 3.888 pernikahan resmi dan 6.079 pernikahan terselubung, dengan total 9.679. Pada tahun yang sama pula angka perceraian di kota itu terdapat 16.123 (Norman Wright, 1992:8-9)

Penulis Amsal mengatakan, “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (20:6). Memang sulit menemukan orang yang setia. Dalam rumah tangga pun demikian. Ada banyak pasangan yang nampaknya penuh perhatian, ramah dan baik, namun tidak bisa memegang kesetiaan. Harusnya semua sikap demikian plus kesetiaan harus selalu melekat dan menjadi pondasi yang kuat. Di pesisir pantai Miami, Amerika Serikat ada kisah yang menarik. Siang itu ada sepasang kekasih yang pergi ke pantai mengendarai sebuah mobil sport. Sebelum ke pantai mereka sempat mampir ke warung burger untuk membeli makanan. Berhubung toko sangat ramai waktu itu, pemilik toko melayani mereka dengan tergesa-gesa sekali. Lalu sepasang kekasih itu membawa makanan mereka. Betapa kagetnya ketika mereka membuka isi pembungkus burger tersebut. Ternyata, isinya bukan burger, melainkan setumpuk uang. Segera mereka kembali ke warung burger tersebut dan mengembalikan uang tersebut. Pemilik toko sangat berterima kasih dan kagum bahwa mereka adalah orang-orang yang baik dan jujur. Kemudian ia meminta mereka untuk tinggal sebentar dan akan mengundang crew televisi untuk meliput dan mewawancari sepasang kekasih yang jujur ini. Ternyata mereka menolaknya dan meminta dengan sangat untuk tidak mengeksposnya. Mengapa? Karena pasangan wanita yang diajak oleh pria itu bukanlah istrinya, melainkan simpanannya. Ternyata, dibalik kebaikannya tersimpan ketidaksetiaan pada pasangannya. Harusnya semua sikap penuh perhatian, ramah, baik plus kesetiaan harus selalu melekat dan menjadi pondasi yang kuat. Ingatlah selalu bahwa Allah kita adalah Allah yang cemburu, dan menuntut kesetiaan dari umat-Nya.


3. Faithfulness in Job and Ministry (Kesetiaan dalam Pelayanan dan Pekerjaan)

Thomas Alpa Edison dalam percobaan karyanya menciptakan lampu pijar telah mengalami kegagalan 6000 kali. Ketika banyak orang menyarankan agar menghentikan pekerjaannya itu, ia malah terus menekuninya. Sampai akhirnya ia berhasil menemukan lampu pijar tersebut dan hasilnya bisa dinikmati oleh masyarakat dunia. Dr. Dale Galloway dalam bukunya On-Purpose Leadership menceritakan pelayanannya ketika merintis New Hope Community Church, di Portland, Oregon. Pada 1972 ia bersama istrinya, Margi, memulai pelayanan dengan mengambil tempat di sebuah kedai makanan ringan di teater mobil. Meski kecil jemaatnya dan sulit mendapatkan dana untuk mengembangkan pelayanannya, ia tetap setia mengerjakannya. Tuhan terus memimpin dan memberkatinya. Saat ini gereja tersebut menjadi salah satu gereja terbesar di Amerika dengan jumlah jemaat 6.400 orang, dan 500 pendeta biasa yang melayani lebih dari 5.000 anggota kelompok kecil. Demikian juga dengan Dr. Paul Yonggi Cho di Korea Selatan. Jumlah jemaatnya saat ini telah mencapai 900.000 lebih dan menjadikan gerejanya sebagai gereja terbesar di dunia. Padahal, ketika ia merintis Yuido Full Gospel Church hanya dimulai dengan 6 orang. Karena ketekunan dan kesetiaannya, dan lepas dari teologi pengajarannya, Tuhan memberkati pelayanannya. Jelas, Tuhan akan memperhitungkan segala pekerjaan dan pelayanan kita. “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Luk. 16:10). Ini adalah prinsip yang perlu diingat: setiap pemimpin besar di dunia ini dimulai karena setia mengerjakan hal-hal yang kecil. Tuhan akan melihat apa yang kita kerjakan dan Dia akan memberikan berdasarkan kesetiaan kita. Dan kesetiaan kita melakukan perkara-perkara yang kecil akan mendatangkan dampak yang besar, dan akan menyatakan kemuliaan tuhan bagi sekeliling kita. Terakhir, saya akan menutup dengan kisah nyata orang yang dengan setia dan tekun baik dalam pekerjaan dan pelayanannya. Di Albania ada seorang gadis yang bernama Agnes Gonza Bojuxhiu, putri seorang kontraktor yang kaya raya. Di usianya yang relatif muda, 17 tahun, ia telah membuat keputusan masuk menjadi anggota Sisters of Loreto, sebuah badan misi yang kemudian mengutusnya untuk melayani di Kalkuta, India. Ketika ia berada di Kalkuta, ia menyaksikan situasi sosial yang sangat memprihatinkan. Pada tahun 1946 di India terjadi kerusuhan berdarah antara kelompok Muslim dan Hindu, dan membuat situasi di India semakin kacau. Hampir setiap hari dan di setiap peloksok selalu dijumpai orang-orang miskin. Melihat semuanya ini Agnes Gonza Bojuxhiu terpanggil untuk menolong dan melayani mereka semua. Itulahawal dari misi kemanusiaanya. Ia bukan hanya menolong mereka secara fisik tetapi juga membawa kasih Kristus kepada mereka. Dalam perjuangannya menolong orang-orang miskin di Kalkuta, akhirnya pada tahun 1950 ia mendirikan Missionary Charity, sebuah badan misi yang bertujuan meringankan penderitaan manusia. Badan misi ini terus berkembang hingga memiliki anggota ribuan orang dan telah mendirikan lebih dari 500 rumah penampungan dan klinik bagi orang-orang sakit dan miskin. Sejak ia menjejakkan kakinya di kota itu, dengan setia ia selalu hadir di tengah-tengah mereka dan hidupnya telah menjadi bagian dari mereka. Ia setia melayani mereka yang tidak terlayani, sampai pada akhir hayat hidupnya. Selama lebih dari 50-an tahun melayani di tempat yang kumuh, kotor, dan miskin, akhirnya ia meninggal pada tahun 1997. Saat pemakamannya tiba, ia dihantar dan diiringi bak umpama seorang pejabat besar India, dan seluruh mata menyaksikan akan ketulusan, keteguhan, kegigihan, dan kesetiaannya kepada mereka yang terlantar. Dialah Bunda Theresa.


Bagaimana jawab saudara? Kiranya Tuhan memberikan kekuatan kepada kita agar tetap setia dalam iman, keluarga, pekerjaan, dan pelayanan kita.

No comments:

Post a Comment